SINAM ENAM

Episode 2
(Nara sumber cerita H Amran Alm Desa suka jadi)
Di tulis oleh Mady Lani

Lalu ditanyakannya pada si Tung sape yang ngantar makanan tersebut, aneh si Tung tak mau lagi kata-kata melainkan hanya menyebut nemonyo, tung ng trung. Seminggu kemudian habis pula persediaan makanan si pergi lagi kehutan mencari engumpulkannya, dan setibe dipendeknya lagi-lagi je menemukan banyak sekali makanan telah tersedia.

Anch miker si Putri, siapa pula yang mengantar makanan ini angan-jangan ular yang bergelung dibawah pondoknye Timbullah niatnya untuk memergoki siapa yang telah berbek hati tersebut.

Beberapa hari kemudian si Putri berpura-pura ekon mencari makanan, ia turun dari pondoknya dan berpeson pada si Tiung bahwa ia akan pergi kehutan mencari makanan, padahal ia bersembunyi dibalik pohon tidak jauh dari pondoknya tersebut.Setelah ditunggu beberapa saat terlihat olehnya suate keanehan karena dari bawah pondoknya itu muncul seorang laki-laki gagah tampan dan cekatan, sambil membawa makanan akan menaiki tangga pondoknya.

Tanpa membuang-buang waktu si Putri keluar dari persembunyiannya lalu menangkap basah sang Perjaka sambil berseru :

Putri: “Gaw segagaw, pantas nian atiku meriang rie, mandi aku dide basah, makan aku dide kenyang, tiduk aku dide tekelap, ini ndie gerang penundenya !”

Sang Perjaka tertunduk malu, meminta maaf dan mengutarakan isi hatinya meminang si Putri untuk menjadi isterinya. Sambil tersenyum malu-malu si Putri bertutur Putri “Tuape kakak amu aku nurut saje, tighah surging iluklah urgah due”.

Maka hidup rukunlah keduanya sebagai suami isteri, susah dan senang ditanggung bersama, bercanda-ria, serasi seirama dengan alam sekitarnya. Beberapa bulan kemudian Sang Perjaka mengajak Si Putri mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untukmembuat api unggun.

Pada malam harinya bertepatan dengan malam empat belas dinyalakanlah api unggan tersebut sehingga hutan rimba sekelilingnya menjadi terang benderang, cahayanya menembus tujuh lapis long. Selanjutnya sang Perjaka mengambil “pelluny” (kulit ularnya), memotongnya menjadi lima began Lalu sebagian demi sebagian dilemparkannya keddam api unggun Setiap kali pelulusan dilemparkan kedalam op, terd ledakan dan mengeluarkan cahaya menylakkan Setelah ledakan pertama, terjadilah lapangan yang sangat luas datar, bersih dan ceput mata memandang.

Setelah ledakan kedua, terciptalah sebuch istora yang sangat megah, indah, pintu-pintu dan jendelanys berlapis emas, lengkap pula dengan isi dan perbuatannya. Setelah ledakan ketiga, terciptalah beratus-ratus rumah penduduk, berbaris rapi mergelling istars, lengkap pula dengan isi dan perbotannya. Setelah ledakan keempat terciptalah hamparan persawahan yang sangat luas beserta padi yang menguning siap untuk dipanen. Setelah ledakan kelima, terciptalah manusia laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan. berdin didepan rumahnya masing

masing. Setelah itu pasangan-pasangan tersebut mendekat mengelilingi Sang Perjaka dan Si Putri, bersujud dan bertutur sembah bersama-sama :

Pasangan

Manusia: “Ampun atas duli tuanku, kami menyembah kepada tuan Raja dan Permaisuri, kami siap melaksanakan segala titah perintah tuanku” Dengan demikian resmilah Sang Perjaka dan Si Putri menjadi Raja dan Permaisuri dan kerajaan bar itupun dinamakan kerajaan “MUNGGAH RAJAK”.

Untuk selanjutnya diangkat pula pejabat-pejabat kerajaan, perdana menteri, bendahara kerajaan, panglima, hulubalang, balebatur, dayang-dayang, khadam, dan seterusnya, dan seterusnya., lengkap sampai tukang kebun dan petugas stal kuda.

Alkisah setelah beberapa bulan kemudian terjadilah kehebohan dikerajaan “Limau Masam”, karena disungai pemandian umum banyak sekali sampah rumah tangga hanyut mencemari air sungai. Ada sabut kelapa, ada tuntung gulai ada daun-daun bekas ibat nasi, ada buluh dasan, ada kulit lemang, dilnya.Rakyatpun mengadu kepada Selir dan Sinam Nam, bahwa ada dusun berdiri diulu sungal, harus ditaklukkan dan diusir karena mengganggu dan mencemari lingkungan.

Lalu dikirimlah pasukan untuk menggempur memerangi kerajaan Munggah Rajak. Diperintahkan supaya membungihanguskan rumah-rumah dan penduduknya ditawan untuk dijadikan budak. Namun apa yang terjadi ? Pasukan kerajaan Limau Masam tidak mampu mengalahkan pasukan kerajaan Munggah Rajak, bahkan semua prajuritnya tidak ada yang pulang, mati atau tertawan.

Dari pengakuan tentara yang tertawan tersebut terungkaplah cerita bahwa beberapa belas tahun yang lalu dikerajaan Limau Masam terjadi perebutan kekuasaan oleh enam selir raja dan enam anaknya Sinam Nam, dan diperoleh informasi bahwa Permaisuri Raja masih hidup dalam penjara, tersiksa lahir batin, badannya sangat kurus dan selalu menyebut anaknya Si Putri.

Mendengar cerita tersebut si Putri yang kini telah menjadi Permaisuri Raja kerajaan Munggah Rajak, sangat terharu dan ingin cepat bertemu dengan ibunya tersebut.Dengan serta merta Raja memerintahkan para Hulubalang dan laskarnya untuk menyerang kerajaan Limau Masam, mengeluarkan ibu si Putri dari penjara untuk dipertemukan dengan si Putri, sekaligus menangkap keenam selir dan anak anaknya Sinam Nam untuk dimasukkan kedalam penjare Kerajaan Munggah Rajak.

Tentu saja tugas tersebut dengan mudah dikerjakan dan cepat diselesaikan dan beberapa hari kemudian tibalah rombongan itu dipintu gerbang kerajaan Munggah Rajak disambut meriah oleh Raja, si Putri dan seluruh rakyatnya Ibu si Putri diusung oleh delapan prajurit, diberi pakaian bagus memakai perhiasan emas intan gemerlap. Meskipun badannya kurus tetapi tetap cantik menawan dan berwibawa. Lalu terjadilah pertemuan yang sangat mengharukan antara ibu dan anak yang telah lama terpisah. semua menangis namun tangis bahagia dapat berjumpa.

Sedangkan keenam selir dan Sinam Nam, diranta serantai-rantai, ditarik dan digiring para prajurit, wajahnya kusam, pucat ketakutan, tertunduk malu, tak berani memandang muka orang banyak. Itulah hukuman yang sangat berat dirasakan akibat ketamakan, keserakahankezolimannya. Demikian pula rakyat kerajaan Limau Masam ikut mengiringi membungkuk memohon pengampunan dan belas kasihan.

Selanjutnya kerajaan Munggah Rajak makin lama semakin ramai menjadi negeri yang aman makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentaram karta raharja. Rakyaknya rukun damai, giat bekerja sambil begembira ria, sergepat sergendi, ye tue ngipat, ye mude nurut, tak ada perselisihan tak ada silang sengketa diantara mereka. Rajanya memerintah dengan adil bijaksana, mencintai dan dicintai rakyatnya. (*)