7 Desember 2021

Husna Zainal Fitra

‘SERINGGUK MALAI’

Pada zaman dahulu kala ada seorang raja yang mempunyai tujuh orang anak perempuan Anak pertama sampai ke enam biasa dipanggil “SINAMNAM Semua berwajah jelek berperangai buruk, iri dengki, tamak serakah selalu membuat onar dan menjengkelkan. Karenanya mereka tidak disenangi dan dicintai raja, lingkungan istana dan juga rakyatnya.

Sebaliknya anaknya yang bungsu berparas cantik berbudi pekerti luhur, lemah lembut halus tutur bahasanya Gerak geriknya indah mempesona, cerdas terampil bijaksana, sehari hari ia dipanggil “PUTRI BUNGSU”.

Pada saat sang raja gering (sakit) beliau berpesan bahwa Putri Bungsu ditunjuknya sebagi ahli waris kerajaan yang akan memimpin tahta pemerintahan selanjutnya. Namun manakala sang raja wafat, justru Sinamnam yang mengambil alih pemerintahan dan menguasai istana mereka secara bersama-sama memerintah dengan kejam dan menindas rakyat.

Mereka setiap hari mengadakan pesta hura-hura, hidup berfoya-foya, makan minum yang enak enak, menari dan menari, sedangkan Putri Bungsu diperintahkannya untuk dibawa kehutan untuk dibunuh. Namun petugas yang ditugaskan untuk membunuh Putri Bungsu merasa tidak tega dan kasihan melihatnya. Putri Bungsu hanya diasingkan didalam hutan, dibuatkannya pondok ditepi sungai dan diberi bahan makanan secukupnya. Maka hiduplah Putri Bungsu seorang diri didalam hutan dan untuk mengisi waktu ia membuat kebun sayur-sayuran dan bunga-bungaan.

Pada suatu hari datanglah seekor elang melayang layang diatas kebun Putri Bungsu seraya berpantau. Elang : “Kelik…kelik numpang beteluw kelik, kelik dikebun bunge kelik, kelik dikebun bunge. Kelik dide ditengah kelik, kelik pinggir jadilah, kelik numpang beteluw” Aneh…burung elang bisa berbicara seperti manusia dan secara spontan Putri Bungsu lalu menjawab
Puter Bungsu : “Adak elang….beteluwlah ndak beteluw, ndak ditengah pegi ndak dipinggir pegi….beteluwlah” Setelah mendapat izin Putri Bungsu maka si elang dengan cepat membuat sarang lalu bertelur disebuah pohon bunga dekat pondok Putri Bungsu setelah itu terbang menghilang entah kemana. Hari-hari selanjutnya Putri Bungsu tetap rajin mengurus kebunnya dan tidak memperdulikan sarang burung elang itu.

Pada suatu hari ketika Putri bungsu pulang dari sungai dilihatnya banyak sekali buah-buahan dipondoknya, halaman pondoknya bersih bahkan telah tersedia air dan kayu bakar untuk memasak. Tentu saja putri bungsu tercengang dan heran siapa yang mengerjakannya padahal tidak ada orang yang datang. Kejadian aneh tersebut berulang beberapa kali yakni ketika ia mandi dan mencuci disungai.

Lalu timbul rencana Putri Bungsu untuk memergoki siapa pelakunya yakni berpura-pura akan berpergian jauh padahal ia bersembunyi dibalik pohon tidak jauh dari kebunnya itu. Setelah menunggu sejenak rupanya dari dalam telor elang itu muncul seorang laki-laki gagah tampan (“YANG TELAKI”) dan langsung bekerja dengan cekatan mengatur segala sesuatu supaya rapi dan indah. Sambil mengendap-endap Putri Bungsu menghampirinya dari belakang dan dengan suara lantang ia berucap :
meriang rie, mandi aku dide basah, makan aku dide kenyang, tiduk aku dide tekelap, ini ndie gerang penundenye !” Dengan cepat Yang Telaki menoleh seraya berkata gugup : Yang Lelaki: “Ui….Putri….cepat benarg dengah lah balik,aku mintak maaf ai !” Ia menyalami Putri Bungsu dan mengaku memang ia yang telah menolongnya selama ini. Iapun langsung meminang Putri Bungsu untuk menjadi teman hidupnya dan gayungpun bersambut sehingga keduanya hidup berumah tangga rukun damai berbahagia dan beberapa tahun kemudian lahir pula anaknya seorang perempuan cantik yang diberinya nama : SERINGGUK MALAI”.

Matahari tidak selamanya bersinar terang, cahaya bulanpun suatu saat tertutup awan bahkan hujan badai datang bergemuruh menerjang. Tempat pengasingan Putri Bungsu akhirnya diketemukan oleh seorang pemburu lalu melapor pada Sinamnam, diceritakannya apa yang telah dilihatnya ditempat pengasingan Putri Bungsu tersebut. Bahwa Putri Bungsu telah bersuamikan seorang laki-laki tampan gagah (Yang Telaki) dan telah mempunyai seorang anak perempuan.

Setelah mengetahui bahwa Putri Bungsu masih hidup rukun bersama suami dan anaknya maka Sinamnam lalu mengatur rencana jahat untuk membunuh Putri Bungsu sekaligus merebut suaminya. Dengan tipu muslihat licik Putri Bungsu diajaknya mandi dihanyutkannya. kesungai dan tiba-tiba.

Melihat Putri Bungsu hanyut menggapai-gapai dan berteriak minta tolong ke-enam Sinamnam bersorak gembira karena menurut rencananya setelah Putri Bungsu mati maka Yang Telaki suaminya akan mau menjadikan Sinamnam sebagai istri-istrinya. Namun takdir menentukan lain, setelah hanyut dibawa arus air kebetulan dibagian hilir sungai itu ada enam bidadari kayangan yang sedang mandi. Melihat ada orang pingsan hanyut dibawa air sungai lalu ditolongnya, diobatinya dan diberinya pakaian selanjutnya Putri Bungsu diajaknya terbang bersama-sama ke-kayangan.

Adapun Seringguk Malai oleh Sinamnam dibawa pulang dijadikan budak, dipaksa bekerja keras siang malam, disiksa dan dianiaya, tidak boleh berpakaian bagus, tidak boleh makan makanan enak, harus bekerja terus bekerja dan bekerja. Seringguk Malai lalu meratap : (Rejung Besemah) Seringguk Malai : “enduk ui enduk dimane enduk, tolonglah aku Seringguk Malai, tiduk ndak tiduk dibaling lesung, belapik tanah besaput embun, baju selambarg kering dibadan makan ndak makan kergak basah, kenyanglah legu kenyanglah agas, kenyang nyamuk bekambangan, enduk ui enduk dimane enduk….tolonglah aku Seringguk Malai”

Dengan seketika datanglah enam bidadari beserta Putri Bungsu membawa pakaian dan makanan untuk Seringguk Malai. Selanjutnya mereka bersama-sama menyelesaikan pekerjaan Seringguk Malai menumbuk menampi padi. Sebelum fajar terbit merekapun terbang pulang kekayangan, tinggalah Seringguk Malai termangu-mangu keheranan dan merasa senang dapat bertemu lagi dengan ibunya.

Sebelum terbang ibunya berpesan supaya sabar dan terus mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya dan berjanji jika baju rambut yang ditenunnya telah selesai maka ia akan diajak ke-negeri kayangan. Disuatu malam yang gelap gulita manakala orang telah terlelap tidur Seringguk Malai meringit : Seringguk Malai : “Ibang segibang daun nangke, luluk kimbang enduk dimalam kemelitir daun niuw luluk jarghi enduk dimalam.

Rupanya ucapan Seringguk Malai yang menyebut ibunya itu terdengar oleh bapaknya Yang Telaki yang sengaja mengintip bagaimana keadaan anaknya. Setelah mendengar penuturan Seringguk Malai yang menceritakan pertemuan nya dengan ibunya dan para bidadari dan juga janji-janjinya maka lalu diaturlah rencana atau taktik supaya Putri Bungsu dapat ditangkap dan jangan lagi pulang kekayangan mengikuti para bidadari. Lalu siang harinya dicarilah pinang serungkuk untuk dikupas oleh Seringguk Malai dan harus selesai dalam semalam, jika tidak selesai maka hukumannya sangat berat.

Pada malam yang telah ditentukan para bidadari dan Putri Bungsu turun dan melihat Seringguk Malai mengupas pinang, merekapun lalu membantu mengupas. Karena banyaknya pinang maka ketika hari hampir siang pekerjaan belum selesai. Putri Bungsu menyuruh teman-temannya bidadari pulang lebih dulu sedangkan ia terus mengupas dengan cepat dan tergopoh-gopoh, tak ayal jari manis tangan kirinya teriris lading kersani dan meneteskan darah dan secara kebetulan darahnya dijilat seekor kucing hitam maka seketika itu lemah lunglailah ia tak sadarkan diri. Secepat kilat suaminya Yang Telaki keluar dari persembunyiannya lalu menangkap Putri Bungsu seraya berseru:
Yang Lelaki: “Gau segagau.pantas nian atiku meriang rie, mandi aku dide basah, makan aku dide kenyang, tiduk aku dide tekelap, ini ndie gerang penundenye” Setelah Putri Bungsu siuman haripun sudah siang dan selanjutnya ketiganya berpelukan menangis terharu dapat bertemu dan bersatu kembali Mendengar ada suara ribut-ribut dan isak tangis tersebut Sinamnam datang dan menyaksikan Putri Bungsu masih hidup dan kini bersama dengan suaminya Yang Telaki dan anaknya Seringguk Malai. Berpura-pura sedih Sinamnam mendekat dan lagi-lagi merayu menggoda Yang Telaki, dengan rayuan gombalnya.
Putri Bungsu tidak menyia-nyiakan kesempatan lalu diraupnya segenggam pasir lalu dilemparkannya pada Sinamnam dan ajaib dengan seketika itu pulah Sinamnam berubah rupa menjadi enam ekor kera. Karena sadar akan kesalahannya dan merasa malu telah menjadi kera maka Sinamnam berlarian masuk hutan.

Akhir cerita Putri Bungsu dan suaminya Yang Telaki dan anaknya Seringguk Malai pulang keistana dan selanjutnya memegang tampuk pemerintahan sebagai Ratu dan memerintah dengan adil bijaksana mencintai dan dicintai rakyatnya. Pesan moral: “Yang haq akan tetap haq- yang batil tetap batil, jika datang haq maka yang batil pasti hancur”. (*)