Sabar Kunci dalam Meraih Kesuksesan


Yusminarti

Menjalani profesi sebagai penjahit, Yusminarti lulusan tata busana dari SMKK Negeri Pekan Baru ini, sudah memiliki pelanggan setianya. Utamanya, kaum ibu yang berlokasi di Jalan Gunung Desa Siderejo, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Pagaralam Selatan, sudah tak asing lagi dengan Penjahit Eti.
“Kemampuan menjahit mungkin saya dapat dari ibu dan beberapa keluarga juga ada yang berprofesi sebagai penjahit. Jadi, saya perdalam kemampuan saat bersekolah di SMKK Negeri Pekan Baru dengan jurusan tata busana,” cerita Eti, saat dibincangi wartawan Harian Umum Pagaralam Pos.

Setelah lulus sekolah pada tahun 1993, tutur Eti, dirinya langsung ikut orang, bantu-bantu menjahit di usaha jasa jahit milik orang, karena untuk langsung membuka sendiri jasa jahit belum mempunyai modal. “Selama 2 tahun saya ikut orang, lalu saya memberanikan diri untuk mandiri, dengan modal seadanya dan alhamdulillah sampai sekarang sudah memiliki pelanggan tetap,” kenangnya.

Bakat Tailor sudah mendarah daging di diri Eti, menjadikan pekerjaan ini dinikmatinya, bahkan sepi dan ramainya pelanggan sudah dianggap biasa, bahkan semakin kesini semakin banyak juga orang yang membuka jasa menjahit.

“Tapi itu saya jadikan motivasi, untuk bisa terus berinovasi, sabar adalah kuncinya, dalam meraih suatu kesuksesan. Keinginan konsumen maunya seperti apa, itulah yang coba saya penuhi. Hal ini juga yang membuat pelanggan saya nyaman dan tetap mempercayakan jahitannya pada saya,” ungkapnya.

Untuk busana pesanan dari pelanggan, diakui Eti, dirinya tentu lebih fokus kepada satu produk pembuatan kebaya, gaun dan gamis, dengan spesifikasi khusus untuk kaum hawa. “Kalau dulu saya menyediakan contoh-contoh kebaya atau gaun jadi, tapi untuk sekarang saya lebih memenuhi permintaan konsumen, disamping karena bahan baku yang masih sedikit sulit didapat, masih jarang Toko yang menyediakan bahan yang saya butuhkan, jadi ya sudah saya lebih menyerahkan semua ke pelanggan, mereka tinggal datang menyerahkan bahan dan juga memberi contoh model busana yang mereka kehendaki,” jelasnya.

Selain sabar dan memenuhi selera konsumen, Eti menambahkan, hal lain yang coba ditawarkannya, jika menjahit di tempat jelas soal harga, tidak mematok harga terlalu tinggi untuk jasa menjahit, dengan harga untuk 1 busana dikenakan biaya jasa Rp.100 ribu sampai RP.200 ribu.
“Dan jika ada pelanggan yang ingin membuat satu set seragaman keluarga. Biasanya, saya memberi diskon free untuk 1 busana anak. Salahsatu bentuk promosi saya juga biasanya membuat busana natah, yaitu kebaya atau gamis untuk saya pakai sendiri, termasuk untuk anak-anak saya semua kebaya dan gaun, yang dikenakan itu hasil jahitan saya sendiri,” bebernya.

Munculnya banyak penjahit-penjahit saat ini, Eti mengganggap itu bukanlah saingan, karena dirinya yakin rejeki tidak akan tertukar. “Sebab masing-masing penjahit saya yakin sudah punya ciri sendiri, bagi pelanggan juga jika sudah cocok dengan 1 penjahit biasanya, akan sulit berpindah ke penjahit lainnya,” tutupnya. (Dep12)

Previous Peserta Yeosu-UEA Summit 2021 Takjub, Dengan Biofuel Hingga Aspal Karet Muba
Next Tetap Kreatif di Tengah Pandemi