Ilustrasi

Munggahkah Mubungan Adat Besemah

Oleh : Dewa Agustina (Mahasiswi STKIP Muhammadiyah Pagaralam)

ADAT ISTIADAT adalah segala bentuk kegiatan, perbuatan dan tindakan kesusilaan serta kebiasaan masyarakat yang menjadi tingkah laku, dalam kehidupan sehari-hari antara satu sama lain, seperti sopan santun, upacara adat dan hukum adat”.

Adat istiadat ini terdiri dari dua bagian, yang pertama tidak mempunyai akibat hukum atau reaksi adat yang disebut “Adat istiadat”, kedua mempunyai akibat hukum atau reaksi adat yang disebut “Adat lembaga”.¹

Kota Pagaralam yang secara administratif sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lahat (Pajarbulan), sebelah selatan dengan Kabupaten Kaur, sebelah timur dengan Kabupaten Lahat(Kota Agung) dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lahat (Tanjung Sakti).
Kota Pagaralam diyakini sebagai pusat kebudayaan Besemah dan kaya akan adat istiadat, salahsatu adat yang ada di Kota pagaralam yaitu adat munggahkah mubungan dalam proses membangun rumah.²

Munggahkah mubungan merupakan salahsatu adat yang harus dilakukan pada saat membangun rumah di tanah Besemah. Munggahkah mubungan atau lebih dikenal dengan istilah naika mubungan, merupakan salahsatu rangkaian dari proses pembangunan rumah.

Dalam upacara munggahkah mubungan ini ada beberapa hal yang harus disiapkan dan dilakukan terlebih dahulu, karena mubungan ini merupakan puncak tertinggi dari sebuah rumah, yang artinya sangat terhormat maka dari itu diperlukan persiapan terlebih dahulu untuk memulai upacaranya.³

Beberapa hal yang termasuk dalam proses munggahkah mubungan pertama menaikan kayu ke puncak paling tinggi pada rumah yang akan di bangun, kemudian menggantungkan 9 botol air yang berasal dari 9 Batanghari atau 9 air sungai, tak lupa pula dilengkapi dengan pisang emas setandan, tebu manau, linggugh (labu), pakaian dari tuan yang sedang membangun rumah (bisa kain sarung, kain batik, kain songket dll) dan diakhiri dengan menaikkan atau memasang Alam (bendera nasional) dimana bendera itu akan dilepas pada saat akan mulai pemasangan atap rumah.

Dari beberapa hal yang dinaikkan ke mubungan ini masing-masing memiliki arti seperti menaikan Linggugh atau labu itu bertujuan untuk menolak black magic atau ilmu hitam, sedangkan menaikan pisang emas setandan itu diharapkan dapat menangkal segala perbuatan black magic sehingga dapat membuat rumah itu tetap jaya.

Sementara tebu manau itu bertujuan untuk menangkal segala wabah penyakit, sedangkan menggantungkan pakaian di mubungan itu menandakan bahwa rumah itu tetap mengandung rezki.

Terakhir dalam proses munggahkah mubungan ini di hadiri aleh anak-anak yang di panggil oleh sunggut Jurai atau orang yang mempunyai anak belai, kehadiran anak-anak ini untuk merebut uang koin yang dihamburkan oleh pemilik rumah sambil bersorak gembira turut berbahagia,proses menghamburkan uang koin ini menandakan bahwa rumah yang dinaikkan mubungan ini tetap memanggil rezki. (*)

error: Content is protected !!